Mengubah Kemungkaran

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya
dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya; yang demikian adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim dan Ahmad).

Dalam hadis di atas, pihak yang diseru (mukhathab) adalah setiap individu Muslim yang menyaksikan
kemungkaran. Artinya, setiap Muslim yang menyaksikan kemungkaran, ia wajib untuk mengubah
kemungkaran itu dengan salah satu dari ketiga cara yang disebutkan di dalam hadis tersebut. Kewajiban ini adalah fardhu ain, bukan fardhu kifayah.

Taghyîr, menurut Abu al-Biqa’ al-Kafawi di dalam al-Kulliyât, maknanya adalah mengganti suatu sifat
dengan sifat yang lain. Taghyîr adalah mengganti sesuatu yang tidak disukai dengan sesuatu yang
diinginkan. Artinya, taghyîr bukan hanya menghilangkan sesuatu, tetapi juga sekaligus mewujudkan
sesuatu yang baru untuk menggantikan yang dihilangkan. Dengan itu, hadis di atas mengisyaratkan
untuk menyempurnakan kewajiban mengubah kemungkaran itu secara real, yakni dengan
menghilangkannya, lalu menegakkan kemakrufan sebagai gantinya. Dengan begitu, kemungkaran bisa dihapus tuntas dan kemakrufan bisa dikokohkan.

Mengubah kemungkaran bisa dilakukan oleh individu, jamaah atau negara. Namun, hadis di atas
hanya menjelaskan ihwal mengubah kemungkaran oleh individu. Jika seseorang menyaksikan
kemungkaran dan ia minimal menduga kuat dirinya mampu menghilangkan dan mengubahnya secara
real dengan tangan (kekuatan), ia harus melakukannya. Jika berdasarkan dugaan kuat ia tidak bakalan
mampu, maka ia harus melakukannya dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya.
Hadis di atas menetapkan bahwa perpindahan ke cara dengan lisan dilakukan ketika tidak ada istithâ‘ah (kemampuan) dengan tangan. Begitu pula perpindahan ke cara dengan hati.



Leave a Reply

four × 2 =