Pentingnya Memiliki Guru

Belajar memang bisa kapan saja dan di mana saja. Belajar juga bisa secara mandiri atau otodidak. Namun, tidak demikian dengan belajar agama (Islam). Seorang pembelajar Islam idealnya memiliki guru. Idealnya pula, ia tak hanya memiliki satu guru atau sedikit guru, tetapi banyak guru yang tentu guru-guru terpilih. Sebagian ulama berpendapat bahwa siapa yang belajar ilmu tanpa guru maka gurunya adalah setan.

Wajar jika para ulama dulu memiliki banyak guru, tak hanya satu-dua orang. Mereka bisa memiliki puluhan, ratusan bahkan ribuan guru. Imam al-Bukhari, yang terkenal sebagai ahli hadis paling terkemuka, misalnya, jumlah gurunya tak kurang dari 1000 orang. Imam al-Hakim bahkan memiliki tak kurang 2000 guru.

Oleh karena itu banyak ulama yang memandang pentingnya berguru dalam mempelajari ilmu, tidak dianjurkan belajar secara otodidak. Imam al-Ghazali, misalnya, berkata, “Guru membuka (yang tertutup) dan memudahkan (yang rumit). Mendapatkan ilmu dengan adanya bimbingan guru akan lebih mudah dan lebih menyenangkan.” (Al-Ghazali, Minhâj al-‘Abidîn, hlm. 8).

Syaikh az-Zarnuji dalam kitabnya yang terkenal, Ta’lîm al-Muta’allim (hlm 14), menukil syair Imam Ali: Ingatlah, kamu tak kan meraih ilmu kecuali dengan enam perkara/Aku akan jelaskan semuanya kepadamu dengan sejelas-jelasnya/cerdas, semangat tinggi, ulet, tabah, punya biaya, bimbingan guru dan waktu yang lama.

Disebutkan pula dalam sebuah syair: Siapa yang mengambil ilmu dari seorang guru secara langsung/niscaya akan terjaga dia dari sesat dan keliru/Mencari ilmu tanpa guru/laksana orang yang menyalakan pelita yang tak berminyak/Pencari ilmu otodidak (tanpa guru) bisa terjatuh ke dalam kesesatan (Al-Fawâ’id al-Makkiyyah, hlm. 25)



Leave a Reply

five − 5 =