Takwa Kunci Hidup Berkah

Kehidupan yang penuh berkah adalah idaman setiap orang. Keberkahan hidup secara umum sering
diukur dengan kebahagiaan hidup. Orang-orang Barat sekular mengukur kebahagiaan hanya dengan
perolehan-perolehan materi semata. Seseorang dikatakan bahagia jika ia mampu memenuhi segala
kebutuhan fisik dan materialnya semata. Pandangan hidup materialistik ini telah mendorong mereka untuk mengejar kehidupan duniawi semaksimal mungkin.

Kita melihat, kebanyakan orang Barat memang akhirnya meraih sukses secara material. Namun,
pada saat yang sama, banyak di antara mereka yang tidak bahagia. Kalaupun bahagia, kebahagiaan
yang mereka raih acapkali semu. Ironisnya, di tengah kesuksesan mereka secara material, banyak di
antara mereka yang mengidap beragam penyakit sosial semacam hedonisme, yang bahkan berdampak
pada munculnya penyakit-penyakit psikologis yang sangat berbahaya seperti “kekosongan ruhani” dan “kegersangan psikologis”, “alienasi (keterasingan)”, dll.

Padahal menurut Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, dalam kitab Nizhâm al-Islâm, kebahagiaan sejati (as-
sa‘âdah al-haqîqiyyah) seorang Muslim adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT, bukan yang lain.

Keridhaan Allah hanya akan bisa dicapai tatkala seorang Muslim bertakwa kepada-Nya. Takwa tidak lain
adalah menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Hanya dengan takwalah
kebahagiaan (baca: keberkahan) hidup akan dapat digapai, sebagaimana firman Allah SWT (yang
artinya): Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu
sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka kerjakan (TQS al-A‘raf [7]: 96).
Dalam ayat di atas, secara eksplisit jelas Allah SWT telah mengaitkan secara langsung keberkahan
hidup penduduk suatu negeri dengan keimanan dan ketakwaan mereka kepada-Nya.



Leave a Reply

two × two =