Berpikir Menguatkan Iman

Seorang Muslim tentu harus selalu memiliki akidah (iman) yang kuat. Untuk memperkuat akidah
(Iman), salah satunya adalah dengan banyak berpikir (tafakur). Menurut Imam Syafii, dalam kitab Fiqh
al-Akbar, berpikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berpikir
tersebut dituntut untuk makrifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu ia bisa sampai pada makrifat terhadap hal-hal yang gaib.
 
Allah SWT telah mewajibkan setiap Muslim untuk berpikir (tafakur) atau menggunakan akalnya
dalam membuktikan keberadaan Allah sekaligus kekuasaan-Nya. Allah SWT, misalnya berfirman (yang
artinya): Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda (keberadaan Allah) bagi orang-orang yang berakal (TQS Ali Imran [3]: 190).
Ayat di atas dan masih banyak lagi ayat lainnya yang serupa mengajak manusia untuk memikirkan
atau mentafakuri alam semesta. Dengan cara berpikirlah kita yakin bahwa alam semesta merupakan
bukti nyata keberadaan Allah SWT, Pencipta yang Maha Mengatur. Dengan cara itu keiman kepada
Allah SWT merupakan keyakinan yang mantap karena didasarkan pada pemikiran yang rasional.
Namun demikian, karena keterbatasan akal dalam berpikir, Islam, misalnya, hanya mewajibkan
manusia untuk memikirkan eksistensi (keberadaan) Allah SWT dan sebaliknya, melarang manusia untuk
memikirkan esensi (zat)-Nya, karena esensi Allah berada di luar jangkauan akal. Inilah yang juga
diperintahkan oleh Rasulullah saw., “Pikirlah makhluk dan jangan kamu memikirkan (zat) Khalik, karena kamu tidak akan sanggup menakar hakikat-Nya.” (HR Abu Nu’aim).


Leave a Reply

two × four =