Simpul-simpul Islam

Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, simpul-simpul Islam akan terlepas satu demi satu. Setiap kali satu
simpul terlepas, orang-orang bergantung pada simpul berikutnya. Yang pertama terlepas adalah al-hukm (pemerintahan/hukum) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR Ahmad).
Dalam hadis ini Rasul saw. mengabarkan bahwa ‘ura al-Islâm (simpul-simpul Islam) itu akan terurai
satu-persatu. Terurai atau rusaknya ‘ura al-Islâm itu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi diurai/dirusak
atau bahkan dihancurkan oleh musuh Islam atau oleh orang Islam sendiri yang terpedaya dan atau diperalat oleh mereka.
Menurut Abu al-Biqa’, ‘urwat[an] ‘urwat[an] menunjukkan proses berurutan, dari ‘urwah pertama dan
seterusnya hingga ‘urwah yang terakhir. Yang pertama terurai adalah al-hukm (pemerintahan dan
peradilan). Yang terakhir adalah shalat. Jika al-hukm berhasil dirusak maka itu menjadi pembuka bagi rusaknya simpul Islam yang lain, sampai yang terakhir, yakni shalat.
 
Sebagian dari apa yang digambarkan Rasul saw. dalam hadis ini dapat kita lihat jelas saat ini. Ketika
pemerintahan Islam terakhir, yakni Khilafah Turki Utsmani berhasil diruntuhkan oleh Barat Islam hilang
dari ruang publik pengaturan masyarakat. Lalu hal itu segera diikuti dengan rusaknya simpul-simpul Islam yang lain.
 
Dalam kondisi seperti ini, ‘urâ al-Islâm yang tersisa adalah ‘urwah shalat. Tentu ‘urwah shalat ini
harus dijaga dan dipertahankan. Upaya itu harus disertai dengan upaya untuk memperbaiki dan
mewujudkan ‘urwah yang lainnya dan terutama ‘urwah al-hukm. Al-Hukm akan melindungi urwah-urwah
Islam. Karena itu upaya untuk mewujudkan kembali ‘urwah al-hukm, yakni pemerintahan yang
menerapkan hukum-hukum Allah, juga merupakan bagian dari upaya mempertahankan dan menjaga
‘urwah shalat, sekaligus mewujudkan kembali ‘urâ al-Islâm secara keseluruhan.


Leave a Reply

2 × 2 =