Menjauhi Syirik

Hakikat keimanan kepada Allah adalah menegakkan prinsip-prinsip tauhid dan meniadakan seluruh
antitesisnya, yakni syirik. Secara literal, tauhid berarti mengesakan, sedangkan syirik berarti
menyekutukan. Akidah Islam mengharuskan penyerahan diri kepada Allah secara total yang diwujudkan
dengan kepatuhan pada hukum-hukum-Nya. Suatu ketika, Rasulullah saw. membaca ayat al-Quran
berikut (yang artinya): Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (QS at-Taubah [9]: 31).

Mengomentari ayat ini, Adi bin Hatim menyatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidaklah
menyembah rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka, tetapi mereka menyembah kepada Allah.
Pernyataan ini dibantah oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya, “Akan tetapi, sesungguhnya rahib-rahib
dan pendeta itu telah mengharamkan apa yang halal kepada mereka dan menghalalkan yang haram
untuk mereka, kemudian mereka mengikutinya. Itulah ibadah mereka kepadanya. (Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, II/349).

Seorang Muslim harus menyakini bahwa hukum-hukum Allah (syariah Allah) adalah satu-satunya
hukum terbaik yang mampu memecahkan seluruh problem umat manusia. Ia tidak boleh menyakini
bahwa aturan-aturan lain selain aturan Allah mampu menyaingi atau setingkat levelnya dengan aturan Allah SWT.

Seorang Mukmin wajib menjunjung tinggi al-Quran dan as-Sunnah. Ia hanya akan berhukum dengan
aturan-aturan Allah SWT. Berhukum hanya pada al-Quran dan as-Sunnah adalah kewajiban mendasar
seorang Muslim sekaligus refleksi keimanannya kepada Allah SWT. Al-Quran telah menyampaikan pesan penting ini di banyak tempat.



Leave a Reply

six + eighteen =