Allah Mahatahu

Setiap Muslim wajib meyakini bahwa Allah Maha Melihat. Inilah yang dipesankan Lukman al-Hakim kepada putranya sebagaimana dikisahkan dalam al-Quran (yang artinya): (Luqman berkata), “Anakku, sungguh jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi yang berada di dalam batu, di langit atau di dalam bumi niscaya Allah akan datangkan (balasannya). Sungguh Allah Mahahalus lagi Mahatahu (TQS Luqman [31]: 16).

Imam ath-Thabari menyatakan ayat ini berisi pesan yang bermanfaat, yakni bahwa kezaliman atau kesalahan, meski sekecil biji sawi, akan Allah hadirkan (balasannya) pada Hari Kiamat. Balasan atas kebaikan adalah kebaikan. Balasan untuk kejahatan adalah keburukan (azab). Adapun tentang frasa “Lathifûn Khabirûn”, Imam Jarir ath-Thabari mengungkapkan bahwa betapa halus dan teliti pengawasan Allah. Tak ada sedikit pun bagi Allah SWT yang tersembunyi sekalipun butiran halus dan kecil. Tak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan Allah SWT meski itu adalah  semut hitam yang merayap pada malam yang gulita.

Banyak ayat yang menguraikan bahwa Allah SWT senantiasa memperhatikan, mencatat, menghitung dan kelak akan membalas perbuatan hamba-hamba Nya (Lihat, antara lain: QS an-Nisa’ [4]: 1; QS al-Maidah [5]: 117; dll).

Karena itu penting meyakini adanya pengawasan Allah SWT ini. Keyakinan ini pasti melahirkan energi positif bagi umat Muslim. Seorang Muslim yang mengimani sifat Allah, yakni Ar-Raqîb, pasti akan bersungguh-sungguh melaksanakan syariah Nya. Ia tak akan menelantarkan hukum-hukum Nya. Kekhusyukannya akan muncul saat beribadah karena yakin Allah Mahatahu atas apa yang terbersit dalam hati. Ia juga akan menjauhkan diri dari semua perkara yang telah Allah SWT haramkan.



Leave a Reply

eighteen + 1 =