Ibadah adalah Pengabdian

Allah SWT telah berfirman (yang artinya): Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi (menghambakan diri) kepada-Ku (QS adz-Dzariyat [52]: 56).

Ayat ini merupakan satu-satu ayat yang secara tegas menjelaskan latar belakang penciptaan manusia, yakni agar mereka semuanya menjadi abdi (hamba) Allah SWT.

Ibn al-Jauzi dalam kitab Zâd al-Masîr, 8/43), menukil pendapat Ibnu Abbas, bahwa ayat di atas bermakna, “agar mereka mengabdi kepada-Ku.”

Adapun menurut Ibnu Hazm dalam kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal (3/80), maksud ayat di atas adalah agar mereka menjadi hamba (abdi) Allah SWT dengan melaksanakan semua hukum-Nya dan patuh pada apa saja yang ditetapkan Allah SWT kepada mereka.

Alhasil, ibadah hakikatnya adalah pengabdian kepada Allah SWT. Karena itu seorang yang mengaku sebagai hamba (abdi) Allah SWT tak hanya dituntut untuk menjalankan ritual penyembahan berupa shalat lima waktu, shaum Ramadhan, atau haji, misalnya. Yang lebih penting adalah menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya.

Apalah artinya seorang hamba (abdi) Allah SWT shalat lima kali sehari, shaum Ramadhan, atau bahkan menunaikan haji berkali-kali sementara ia banyak melalaikan kewajiban dari Allah SWT dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya. Sayangnya, justru inilah yang sering kita jumpai setiap hari saat ini. Betapa banyak orang shalat, shaum Ramadhan, atau menunaikan ibadah haji, misalnya; tetapi mereka tetap bergelut dengan riba, tetap korupsi, tetap terlibat dalam suap-menyuap, tetap memamerkan aurat, tetap terlibat dalam perselingkuhan yang mengarah pada perzinaan, tetap kasar kepada istri, tetap tega menzalimi pihak lain atau tetap melakukan ragam kemaksiatan lainnya. Na’ûdzu bilLâh min dzâlik.



Leave a Reply

thirteen − 11 =