Hati-hati, Istighfar Penambah Dosa

Seorang Muslim tentu dituntut untuk banyak beristighfar, yakni memohon ampunan kepada Allah SWT, sekaligus bertobat kepada-Nya dengan tawbatan nashâhâ (tobat tulus dan lurus). Demikian sebagaimana Allah SWT perintahkan (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kalian kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya… (TQS at-Tahrirm [66]: 8).

Tobat yang sebenarnya, menurut jumhur ulama, mensyaratkan paling tidak 3 (tiga) hal: menyesal diri; bertekad untuk tidak mengulangi dosa; beristighfar atau memohon ampunan Allah SWT.

Karena itu hendaknya seorang hamba sangat berhati-hati untuk beristighfar dengan lisan dan hatinya, namun ia terus bermaksiat kepada Allah SWT. Istighfar semacam ini malah bisa menambah dosa. Ia, misalnya, beristighfar tetapi terus melakukan kezaliman, kedurhakaan, tidak melaksanakan hudûd dan terus dalam menipu rakyatnya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah sifat Yahudi. Allah SWT telah mencela mereka atas perbuatan tersebut, karena tergolong istihzâ’ (menghina Allah SWT). Para ulama secara jelas telah menyatakan bahwa istighfar semacam ini adalah dosa (Lihat: Syaikh Taqyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini, Kifâyah al-Akhyâr, hlm 199).

Apa yang ditulis dalam kitab di atas rupanya telah banyak diabaikan oleh masyarakat. seolah-olah istighfar semata-mata hanya penghias bibir saat memasuki masjid, pembasah lisan setiap kali selesai shalat, tanpa menghayati esensi dari istighfar itu sendiri. Berapa banyak istighfar terpanjatkan yang bukan malah membuahkan pengampunan, tetapi justru hanya menambah dosa. Semakin beristighfar semakin bertambah dosa. yaitu saat kemaksiatan terus dilakukan dan hudûd (hukum-hukum Allah SWT) terus dicampakkan tanpa ada usaha izâlah al-munkar (menghilangkan kemungkaran).

Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.



Leave a Reply

5 × 5 =