Ridha Terhadap Qadha’

Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Amr bin Saad bin Abi Waqash dari ayahnya, “Saya kagum terhadap orang Mukmin. Jika kebaikan menimpa dirinya, dia memuji Allah dan bersyukur. Jika musibah menimpa dirinya, ia tetap memuji Allah dan bersabar. Karena itulah seorang Mukmin akan diberi pahala pada setiap perkara apapun yang menimpa dirinya.” (HR Ahmad, Abdurrazzaq, ath-Thabrani).

Selain itu Muhammad bin Muslim menuturkan bahwa seseorang pernah datang kepada Rasulullah saw.. Ia lalu berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat/nasihat, tak perlu banyak-banyak, “Jangan kamu mencela Allah terkait dengan apapun yang telah Dia tetapkan untuk kamu.” (HR Ahmad dan al-Baihaqi).

Lalu bagaimana supaya kita dapat selalu ridha terhadap qadha’ Allah SWT? Tidak lain dengan meninggalkan syahwat. Demikianlah sebagaimana dituturkan oleh Ahmad bin Abi al-Hawari bahwa Abu Sulaiman pernah berkata, “Jika seorang hamba mampu meninggalkan syahwatnya maka dia akan menjadi orang yang ridha.” (Ibn Abi ad-Dunya’, Ash-Shabr wa ar-Ridhâ’, I/50).

Sikap ridha terhadap qadha’ Allah SWT juga bisa ditunjukkan dengan tidak banyak berangan-angan. Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Ridha adalah tidak mengangan-angankan sesuatu yang berbeda dengan keadaannya.” (Ibn Abi ad-Dunya’, Ash-Shabr wa ar-Ridhâ’, I/51).

Sikap ridha terhadap qadha’ Allah SWT ditunjukkan secara jelas oleh sikap Umar bin al-Khaththab ra. yang pernah berkata, “Tak masalah bagiku apapun kondisi yang terjadi, baik yang aku sukai ataupun yang tidak aku sukai. Sebab sesungguhnya aku tidak tahu apakah kebaikan itu ada dalam perkara yang aku sukai atau yang tidak aku sukai?” (Ibn Abi ad-Dunya’, Ash-Shabr wa ar-Ridhâ’, I/54).



Leave a Reply

1 + 8 =