Menjadi Muslim yang Berhijrah

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Muslim  itu adalah orang yang menjadikan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Al-Muhâjir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang.” (HR al-Bukhari).

Secara gamblang hadis di atas menjelaskan dua hal: hakikat Muslim dan hakikat al-Muhâjir (orang yang berhijrah).

Pertama: seseorang dikatakan muslim jika Muslim yang lain selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Bahkan seorang Muslim (dari kata as-la-ma; maknanya menyelamatkan) sejatinya bisa menyelamatkan Muslim yang lain dengan kebaikan lisan dan tangannya dari berbagai macam keburukan yang menimpa mereka. Karena itu seseorang tidak layak disebut Muslim sejati jika ia malah sering menjadikan Muslim yang lain celaka akibat keburukan lisan dan tangannya.

Bukan pula ia bukan Muslim yang baik jika ia tidak mau menyelamatkan Muslim yang lain dengan kebaikan lisan dan tangannya dari berbagai macam keburukan yang menimpa mereka. Mengejek, mencela,  memfitnah, melukai bahkan membunuh Muslim yang lain jelas tidak layak dilakukan oleh seseorang yang benar-benar Muslim. Kemusliman seseorang juga layak dan pantas dipertanyakan jika ia berdiam diri dan tidak mau menyelamatkan kaum Muslim yang lain dari berbagai keburukan/bencana yang menimpa mereka; baik bencana ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial, moral maupun bencana-bencana lainnya.

Kedua: tanpa bermaksud menafikan pengertian hijrah secara syar’i, yakni berpindah dari darul kufur ke Darul Islam hijrah hakikatnya adalah meninggalkan larangan-larangan Allah SWT. Karena itu seorang Muslimah, misalnya, tidak dikatakan telah hijrah jika ia masih  suka bersolek di hadapan yang bukan mahram, masih pacaran, dll meski ia telah mengenakan kerudung dan jilbab.



Leave a Reply

thirteen + six =