Dua Sisi Dunia

Di dunia manusia sering berangan-angan memiliki umur yang panjang. Padahal kata Al-Hasan ra., kematian selalu mengetuk setiap manusia setiap malam. Manusia pun acapkali memilih dunia agar kekal bersama dirinya. Namun akhirnya, kematian mendatangi dia sebelum angan-angannya terwujud. Manusia pun acap menanam dan merawat pohon kurma. Pohon kurma itu tetap hidup, sementara yang menanam dan merawat pohon kurma itu telah mati (Shifat ashShafwah, IV/65).

Saat Abu Shafwan ar-Raini ditanya, “Kehiduan dunia yang bagaimana yang dicela oleh Allah SWT di dalam al-Quran dan yang dianjurkan untuk dijauhi oleh orang yang berakal?” Beliau menjawab, “Segala sesuatu yang engkau cintai di dunia dengan tujuan duniawi, itulah yang dicela. Adapun  yang engkau cintai dari dunia ini dengan tujuan akhirat, itu tidaklah tercela.” (Tazkiyah anNufûs, hlm. 128).

Di sisi lain, sering dunia dicela dan dianggap menjadi sebab keburukan. Padahal dunia adalah tempat untuk membekali diri. Bahkan di dunialah jalan menuju surga dibangun. Ya, manusia sering mencela zaman. Padahal zaman itu tidak memiliki aib. Sebenarnya di dalam diri kitalah aib itu (Al-Baihaqi, Az-Zuhd, hlm. 157).

 Jadi bagaimana kita menyikapi dunia? Cukuplah kita mengamalkan firman Allah SWT: Carilah oleh kamu pada apa yang telah Allah berikan kepadamu bekal untuk kampung akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia  (TQS al-Qashshash [28]: 77).

 Alhasil, akhirat tetap fokus utama kita, sementara dunia hanya wasilah saja untuk meraih surga-Nya.



Leave a Reply

five × 3 =