Ilmu adalah Agama

Seorang Muslim tak selayaknya menyepelekan ilmu, sesederhanapun ilmu itu. Imam Malik termasuk seorang ulama besar yang tak pernah sedikit pun menyepelekan ilmu. Ia pernah ditanya seseorang dan mengatakan, “Ini masalah sepele.” Mendengar itu, ia marah dan berkata, “Bagaimana bisa dikatakan sepele!” Ilmu itu tak ada yang sepele. Tidakkah engkau mendengar firman Allah SWT (yang artinya): Sungguh Kami akan menurunkan kepada kamu perkataan yang berat (TQS al-Muzzammil: 5). Semua ilmu itu berat, khususnya yang akan ditanya pada Hari kiamat (Al-Madarik, hlm. 162).

Terkait ilmu, Imam Malik pernah berpesan agar kita berhati-hati dalam mencari ilmu. Ia pernah berkata, “Sungguh ilmu ini adalah agama. Karena itu perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Tahdzîb al-Kamâl, I/161).

Karena itu Imam Malik pun pernah memberi nasihat, “Janganlah mengambil ilmu dari empat jenis orang, tetapi ambillah dari selain mereka. Jangan mengambil ilmu dari orang bodoh yang terang-terangan menunjukkan kebodohannya meski dia orang yang paling terpandang di hadapan manusia; jangan pula dari orang yang didominasi hawa nafsu dan kepentingannya yang menyeru manusia sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya; jangan pula dari pendusta yang banyak berdusta di hadapan manusia meski kamu tidak menganggap dia mendustakan Rasulullah saw.; jangan pula dari orang tua yang ahli ibadah dan memiliki keutamaan jika dia tak memahami apa yang dia bicarakan (bukan orang faqîh).” (Al-Kamâl li ‘ibn ‘Adî, I/92).



Leave a Reply

3 + eight =