Belajar Adab Sejak Dini

Adab atau akhlak hendaknya diajarkan oleh para orangtua kepada anak-anaknya sejak dini. Bahkan adab mesti dipelajari terlebih dulu sebelum ilmu. Itulah yang dipraktikkan oleh Ibunda Imam Malik. Imam Malik ra. lahir pada tahun 93 H di Kota Madinah Munawarah. Ia menghapal al-Quran al-Karim sejak dini sebagaimana kebiasaan keluarga muslim pada zamannya. Lalu ia menghapal hadis. Saat ia mengutarakan keinginannya kepada ibunya untuk mencari ilmu, ibunya memakaikan kepadanya pakaian yang paling bagus, dengan surban di kepalanya. Lalu ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah dan belajarlah adab (akhlak) sebelum ilmunya.” (Qadhi ‘Iyad, Al-Madarik, hlm. 115).

Imam Malik pun pernah ber-mulâzamah (belajar terus-menerus) kepada Ibnu Hurmuz selama tujuh tahun. Ibnu Hurmuz antara lain mengajarkan adab, “Sudah sepantasnya seorang ‘âlim mewariskan kepada para murid-muridnya perkataan, ‘Saya tidak tahu.’” Karena itulah, menurut Ibnu Wahab, saat banyak pertanyaan ditanyakan kepada Imam Malik, ia tidak malu untuk berkata, “Saya tidak tahu.”

Karena belajar adab sejak dini, tidak aneh jika Imam Malik sangat memperhatikan adab saat menghadap guru-gurunya. Ia pernah ber-mulâzamah kepada Nafi’, pembantu Ibnu Umar, dan berkata, “Saya mendatangi Nafi’ pada tengah hari. Saya tidak dinaungi pepohonan dari sengatan matahari. Saya menunggu lama keluarnya beliau. Saat beliau keluar, saya biarkan dulu beberapa saat seakan saya tidak melihat beliau. Kemudian saya menemui beliau, mengucapkan salam kepada beliau dan membiarkan beliau sampai beliau masuk. Baru saya berkata, ‘Bagaimana perkataan Ibnu Umar tentang masalah ini dan itu?’ Seraya beliau menjawab, saya serius mendengarkan.” (Ibn Farhun, Ad-Dibâj al-Madzhab fî Ma’rifah A’yân Ulamâ’ al-Madzhab, hlm. 117).



Leave a Reply

10 − two =