Memuliakan Majelis Ilmu

Majelis ilmu adalah majelis yang mulia. Karena itu sepantasnya baik guru maupun murid memuliakan majelis ilmu. Bagaimana seorang murid memuliakan majelis ilmu mungkin sudah banyak dibahas. Yang jarang dibahas adalah bagaimana seharusnya seorang guru memuliakan majelis ilmu.

Dalam hal yang terakhir ini, tampaknya para guru pantas meneladani Imam Malik. Imam Malik memiliki kebiasaan baik dalam menghadiri majelis ilmu. Ia selalu tampil rapi, berpakaian bagus dan berhias untuk menghadiri majelis ilmu. Karena itu ia tampak berwibawa dan berbeda dengan yang lainnya. Tentang ini, al-Waqidi berkomentar, “Majelisnya adalah majelis yang berwibawa dan penuh dengan nuansa ilmu.”

Di majelis ilmu, dalam posisinya sebagai guru, Imam Malik pun sangat hati-hati, berpikir mendalam dan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa. Terkait ini, Imam Malik pernah berkata, “Siapa saja yang ingin menjawab pertanyaan (berfatwa), hendaknya ia memikirkan nasibnya di neraka dan surga serta bagaimana ia selamat di negeri akhirat.” (Ibn Farhun, Ad-Dibâj al-Madzhabfî Ma’rifah A’yân Ulamâ’ al-Madzhab, hlm. 117).

Padahal banyak ulama memuji Imam Malik. Sufyan bin ‘Uyainah, misalnya, berkata, “Saya tidak melihat Madinah kecuali akan rusak setelah wafatnya Malik bin Anas”.

Imam Syafii berkata, “Jika para ulama disebutkan maka Imam Malik adalah bintang (pakar)-nya…Siapa saja yang menginginkan hadis sahih hendaknya (menemui) Imam Malik.”  Ahmad bin Hanbal berkata, “Malik adalah imam dalam ilmu hadis dan fikih.” Al-Qadhi ‘Iyadh pun berkata, “Imam Malik adalah rujukan satu-satunya sejak bertahun-tahun yang lalu.” (Al-Madarik, hlm 111).



Leave a Reply

eight + 10 =