Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Tentu semua orang akan merasa tidak enak saat diperlakukan buruk orang lain. Ia bisa kesal dan marah. Kadang, karena tidak sabar, seseorang akan membalas keburukan orang lain kepada dirinya dengan keburukan serupa, kalau bisa bahkan lebih buruk supaya ia merasa puas.

Tentu membalas keburukan dengan keburukan bukanlah hal yang baik. Pasalnya, Allah SWT berfirman terkait salah satu ciri ‘ibâdur-Rahmân (yang artinya): Para hamba Allah itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan jika orang-orang bodoh berkata-berkata (dengan menghina), ia berkata, “Salam.” (TQS al-Furqan [25]: 63).

Rasululullah saw. pun pernah bersabda. “Pergaulilah manusia dengan cara yang baik.” (HR al-Baihaqi).

Itulah juga yang dipraktikkan Imam Abu Hanifah. Suatu saat Imam Abu Hanifah berada di masjid untuk mengajarkan ilmu kepada para muridnya. Lalu datanglah seorang laki-laki. Ia berdiri di masjid mencaci-maki dan mencela. Imam Abu Hanifah tidak memutus pembicaraannya dan tidak pula menoleh kepada dia.

Imam Abu Hanifah kemudian pulang ke rumahnya, sedangkan si laki-laki berjalan di belakangnya sambil terus memaki. Sesampai di depan pintu rumahnya, Imam Abu Hanifah berdiri dan menghadapkan wajahnya kepada si lelaki itu. “Ini rumahku. Aku hendak masuk. Jika engkau ingin meneruskan makian dan perkataanmu, tuntaskanlah hingga tidak tersisa apa yang ada pada dirimu,” kata Imam Abu Hanifah dengan tenang kepada lelaki tersebut.

Akhirnya, malulah si lelaki karena adab Imam Abu Hanifah. Ia lalu berkata, “Maafkanlah saya. Berikanlah kepada saya jalan keluar.” Abu Hanifah menjawab, “Semoga Allah SWT mengampuni engkau dan engkau sudah bebas.” (Manâqib al-Imâm al-A’zhâm, 1/269).



Leave a Reply

one × 3 =