Menjadi Pembeli yang Baik

Pembeli adalah raja. Demikian pepatah populer menyatakan. Karena itu pembeli berhak dilayani oleh penjual sebaik-baiknya. Namun, bukan berarti pembeli bisa seenaknya mempermainkan penjual. Sebabnya, penjualnya juga punya hak untuk diperlakukan secara baik oleh pembeli. Baik pembeli atau penjual tentu harus memiliki adab atau etika saat melakukan transaksi jual-beli. Di antaranya adalah berlaku jujur dan adil.

Terkait hal di atas, suatu hari Abu Hanifah didatangi oleh seorang perempuan yang menawarkan kain sutra. “Apakah Anda berkenan membeli sutra ini?” “Berapa harganya?” Tanya Abu Hanifah.“Seratus dirham,” jawab perempuan itu. “Pakaian seperti ini bisa dijual lebih tinggi dari 100 dirham,” kata Abu Hanifah. Perempuan itu akhirnya menambah 100 dirham lagi hingga menjadi 200 dirham. Abu Hanifah berkata bahwa harga barang itu masih layak dinaikan lagi. Perempuan itu pun menambah hingga 400 dirham. Namun, sekali lagi Abu Hanifah berkata, “Masih ada harga yang lebih baik dari itu?” “Anda pasti menghina saya,” jawab perempuan itu.

“Cobalah Anda mencari seorang yang ahli dalam menaksir harga barang ini. Saya tidak ingin menzalimi Anda,” jawab Abu Hanifah. Perempuan itu lalu mendatangkan seorang ahli menaksir harga barang. Abu Hanifah segera meminta dia untuk menaksir harga barang yang ditawarkan oleh perempuan itu. Penaksir itu kemudian menaksir barang tersebut dengan harga 500 dirham. Akhirnya, Abu Hanifah membeli kain sutra itu (Syaikh Muhammad Hasan al-Jamal, Biografi 10 Imam Besar (edisi Indonesia) hlm. 19, Pustaka Al-Kautsar).



Leave a Reply

seventeen + 18 =