Semua karena Kesungguhan

Imam al-Bukhari adalah ulama hadis terkemuka. Salah satu keistimewaannya, ia cerdas dan daya hapalnya sangat kuat. Tentang ini Imam al-Bukhari pernah berkata “Aku hapal 100 ribu hadis sahih dan dua 200 ribu hadis yang tidak sahih.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 12/415).

Yang tak kalah istimewa, Imam al-Bukhari pernah berkisah, “Setiap kali aku hendak meletakkan satu hadis dalam kitab sahihku, aku mandi terlebih dulu kemudian shalat (istikharah) dua rakaat.” (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’, hlm. 101; Al-Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzîb at-Tahdzîb, 9/42).

Padahal dalam Al-Jâmi’ ash-Shahîh (Shahîh al-Bukhârî) ada sekitar 7560-an hadis. Jika untuk satu hadis Imam al-Bukhari shalat dua rakaat, berarti selama menulis kitab sahihnya, ia melaksanakan shalat sekitar 15.120 rakaat.

Yang juga  sangat istimewa, Shahîh al-Bukhârî hanya berisi sebagian kecil dari kumpulan hadis sahih miliknya yang berjumlah 600 ribu hadis. Artinya, masih banyak hadis sahih yang tak beliau cantumkan dalam kitabnya tersebut. Tentang ini, Imam al-Bukhari berkata, “Aku hanya memasukkan sebagian kecil hadis sahih ke dalam kitab ini agar kitab ini tidak terlalu tebal.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 12/402).

Mengapa hapalan Imam al-Bukhari begitu kuat? Itu karena, kata beliau, “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih bermanfaat menguatkan hapalan daripada keinginan kuat dan seringnya melakukan muthâla’ah.” (Ibn Katsir, Al-Bidâyah, 11/23).

Wajar jika Imam al-Bukhari bisa mengulang-ulang membaca (menghapal) satu kitab sebanyak puluhan bahkan ratusan kali. Konon kitab Ar-Risâlah karya Imam Syafii saja dibaca dan diulang-ulang oleh Imam al-Bukhari tidak kurang dari 700 kali.

Alhasil, semua karena kesungguhan, bukan semata-mata karena kecerdasan.



Leave a Reply

sixteen − sixteen =