Mereka yang Mencintai Kematian daripada Kehidupan

Khalid bin Walid ra., sang ‘Singa Allah’, pernah berkata, “Aku lebih menyukai malam yang amat dingin dan bersalju di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi harinya daripada menikmati malam pengantin bersama wanita yang paling aku cintai.” (HR al-Mubarak dan Abu Nu’aim).

Apa yang dinyatakan oleh Khalid bin Walid ra. bahkan dipratikkan secara langsung oleh Sahabat Hanzhalah bin Amir ra. Saat itu Hanzhalah ra. baru saja melangsungkan akad pernikahan pada siang harinya. Malam harinya tentu ia menikmati malam pengantin bersama istrinya. Namun, pada malam itu juga ada panggilan jihad yang langsung diserukan oleh Rasulullah saw.

Mendengar  itu, ia tidak berpikir panjang, Hanzhalah seketika berlari menuju medan Perang Uhud. Bahkan saat meninggalkan istrinya di malam pengantin itu, ia masih dalam keadaan junub dan tak sempat mandi junub terlebih dulu. Di medan Perang Uhud itu ia pun terbunuh dan meninggal sebagai salah seorang syuhada. Saat itu Baginda Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh Hanzhalah ra. dimandikan oleh malaikat.” Demikian sebagaimana diceritakan kisahnya oleh Ibn Ishaq (Lihat: Min Muqawwimat Nafsiyyah al-Islamiyyah, hlm. 25).

Sahabat lain, Utsman bin Madz’un ra., menunjukkan keteladanan yang sama. Ia lebih rela dicukil matanya setelah menolak berada dalam perlindungan kaum musyrik dan lebih memilih berada dalam perlindungan Allah SWT (HR Abu Nu’aim).

Sahabat lain, Haram bin Milham ra., pernah tertusuk tombak dalam sebuah peperangan. Tombak itu lalu dicabut. Darah pun mengucur deras dari tubuhnya. Akan tetapi, ia malah berkata, “Demi Allah, aku amat bahagia dan amat beruntung!” (HR al-Bukhari dan Muslim).



Leave a Reply

nine + 1 =