Akhirat Lebih Utama dari Dunia

Suatu ketika, Sahabat Umar bin Al-Khaṭṭāb ra. menjumpai Baginda Rasulullah saw. di bilik beliau. Saat Umar ra. masuk, ia mendapati Baginda Rasulullah saw. sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari anyaman pelepah daun kurma.

Saat beliau bangkit, tampak bekas-bekas pelepah daun kurma itu menempel di badan beliau yang putih bersih. Di atas tikar itu ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang yang juga dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma. Umar ra. berkata sebagai berikut:

Aku memperhatikan keadaan bilik Rasulullah saw. Tampak ada tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut bilik itu. Selain itu, aku tidak melihat apa pun. Aku menangis menyaksikan kondisi yang memprihatinkan itu. Rasulullah saw. sampai bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Aku menjawab, “Bagaimana saya tidak menangis, wahai Rasulullah.

Saya sedih melihat bekas tikar yang engkau tiduri di badanmu yang mulia dan saya prihatin sekali melihat keadaan kamar ini. Bangsa Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah saja hidup dengan penuh kemewahan.

Mereka hidup dikelilingi oleh taman yang di tengahnya mengalir sungai. Adapun engkau adalah utusan Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin.” Saat saya berkata demikian, beliau bersabda, “Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini.

Dengarlah oleh engkau, kenikmatan dan kebahagiaan di akhirat tentu lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia yang sementara ini.” (Al-Kandahlawi, Fadhâ’il al-A’mâl, 570-571).



Leave a Reply

four × 1 =