Hakikat Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW.

Salah satu yang sering diungkap oleh para mubalig dalam Peringatan Mualid Nabi saw. adalah anjuran untuk meneladani akhlak beliau. Terkait itu Allah SWT berfirman (yang artinya): Sungguh engkau berada di atas khuluq yang agung (TQS al-Qalam [68]: 4).

Di dalam tafsirnya, Imam Jalalain menyatakan bahwa kata khuluq dalam ayat di atas bermakna dîn (agama, jalan hidup) (Lihat: Jalalain, Tafsîr Jalâlayn, 1/758). Dengan demikian ayat di atas bisa dimaknai: Sungguh engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung.

Tegasnya, menurut Imam Ibnu Katsir, dengan mengutip pendapat Ibnu Abbas, ayat itu bermakna: Sungguh engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung, yakni Islam (Lihat: Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, 4/403).

Ibn Katsir lalu mengaitkan ayat ini dengan sebuah hadis yang meriwayatkan bahwa Aisyah istri Nabi saw. pernah ditanya oleh Saad bin Hisyam mengenai akhlak Nabi saw. Aisyah lalu menjawab, “Kâna khuluquhu al-Qur’ân (Sungguh akhlak beliau adalah al-Quran).” (HR Ahmad).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa meneladani Nabi Muhammad saw. hakikatnya adalah dengan cara mengamalkan seluruh isi al-Quran. Al-Quran tentu tak hanya menyangkut ibadah ritual dan akhlak saja, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Artinya, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum dan pemerintahan.

Begitulah hakikat meneladani akhlak Nabi saw.



Leave a Reply

two − one =