Mereka yang Takut Terhadap Azab-Nya

Suatu hari Baginda Rasulullah saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca al-Quran. Sampailah ia pada ayat yang artinya: Jika langit terbelah dan memerah seperti kulit merah (QS ar-Rahman [55]: 37). Seketika tubuhnya gemetar dan ia menangis seraya bergumam, “Duh, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit terbelah (terjadi kiamat)? Sungguh malang nasibku!” Mendengar itu, Nabi saw. bersabda, “Tangisanmu menyebabkan para malaikat pun turut menangis.”

Dikisahkan pula, Abdullah bin Rawahah ra. suatu ketika tampak sedang menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra. lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirâth, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.”

Kisah-kisah semacam ini, yang menggambarkan rasa takut para sahabat, juga generasi salafush-salih, terhadap azab Allah SWT, sangatlah banyak. Wajarlah jika mereka adalah orang-orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena begitu dahsyatnya rasa takut mereka kepada Allah SWT. Benarlah Fudhail bin Iyadh saat berkata, “Rasa takut kepada Allah SWT selamanya akan membawa kebajikan.”

Lalu bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sayang, tampaknya rasa takut kepada Allah SWT sepertinya begitu sulit tumbuh pada kebanyakan kita. Yang terjadi sering sebaliknya. Kita seolah-olah menjadi orang yang paling berani menghadapi azab Allah SWT kelak pada Hari Kiamat. Buktinya, kita masih banyak berbuat maksiat kepada Allah SWT. Na’ûdzu bilLâh min dzâlik!



Leave a Reply

four + four =