Mereka yang Meraih Bahagia

 Allah SWT telah merinci sifat-sifat orang Mukmin yang meraih kebahagiaan melalui firman-Nya (yang artinya): Sungguh berbahagia kaum Mukmin. Mereka adalah orang-orang yang khusyu dalam shalat mereka; yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna; yang menunaikan zakat; yang memelihara kehormatannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki—sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa, dan siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas; yang memelihara amanat-amanat (yang mereka dipikul) dan janji mereka; serta yang memelihara shalat-shalat mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni mewarisi Surga Firdaus, dan mereka kekal di dalamnya (TQS al-Mu’minun [23]: 1-11).

Adapun menurut as-Sunnah, bahagia bisa diperoleh di antaranya dengan: gemar mengoreksi dan sibuk menginventarisasi daftar aib diri sendiri; membiasakan diri berinfak dan banyak membantu orang lain; dll. Rasulullah saw., misalnya, pernah bersabda, “Siapa saja yang ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya (berarti hidupnya akan diliputi dengan kemudahan dan kebahaigaan, pen.), hendaklah ia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (HR Ahmad).

Rasulullah saw. juga pernah bersabda, “Orang yang bahagia itu adalah mereka yang dimudahkan melaksanakan amal yang (mendatangkan) kebahagiaan. Adapun orang yang celaka maka dimudahkanlah mereka melaksanakan amal yang (mendatangkan) kecelakaan.” (HR al-Bukhari).

Beliau pun pernah bersabda, “Berbahagialah orang yang selalu mengingat aib dirinya sehingga melupakan aib orang lain, menginfakkan kelebihan hartanya, berpegang teguh pada kebenaran ucapannya, serta tetap berada di dalam sunnah dan tidak tergelincir ke dalam bid’ah.” (HR ad-Dailami, Abu Nu’aim, ath-Thabrani dan al-Baihaqi).



Leave a Reply

7 + four =