Belajar Zuhud, Wara’ dan Tekun Ibadah

Di antara akhlak penting bagi seorang Muslim adalah memiliki sifat zuhud, wara’ dan ahli ibadah. Tentang ini kita bisa belajar dari Fudhail bin Iyadh yang dikenal karena ketekunan dan kekhusukannya dalam beribadah.

Jika malam mulai datang, Fudhail bin Iyadh biasa menggelar sajadahnya untuk menunaikan qiyâm al-layl. Ia terus dalam keadaan shalat hingga rasa kantuknya datang tak tertahankan. Ia pun berbaring sebentar untuk kemudian kembali shalat. Saat kembali kantuknya datang tak tertahankan, ia kembali berbaring sebentar, kemudian ia pun kembali bangkit untuk sholat. Begitu seterusnya hingga waktu subuh.
Terkait shalat malam ini, Fudhail pernah berkata, “Jika kamu merasa begitu berat untuk menunaikan qiyâm al-layl dan berpuasa siang hari, ketahuilah, sesungguhnya dirimu telah terbelenggu oleh dosa dan maksiat yang kamu perbuat.”

Fudhail bin ‘Iyadh pun dikenal karena kewaraan dan kezuhudannya. Ia mencukupkan nafkah untuk dirinya dan keluarganya dari hasil mengurus air di Makkah yang tak seberapa hasilnya. Meski hidup pas-pasan, ia menolak segala bentuk pemberian dan hadiah dari Khalifah ataupun para pejabatnya. Ia, misalnya, pernah menolak pemberin uang sebesar 1000 dinar (sekitar 2 miliar) dari Khalifah Harun ar-Rasyid.

Wajah Fudhail pun sering tampak seperti habis menangis karena kesedihan dan rasa takutnya kepada Allah SWT. Tentang ini Ishaq bin Ibarahim ath-Thabari pernah menuturkan. “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih memperlihatkan rasa takutnya kepada Allah SWT selain Fudhail. Saat ia membaca al-Quran, kitab itu ia baca dengan lembut, syahdu dan begitu menyentuh hati; seolah ia sedang berbicara dengan seseorang.” (Lihat: Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ, 7/395).



Leave a Reply

16 − 2 =