Kemunafikan di Atas Kemunafikan

Salah satu cara setan untuk merugikan manusia sehingga amalnya tidak diterima oleh Allah SWT adalah dengan mempermainkan kalbu mereka. Setan terus-menerus menggoda manusia agar berlaku riya’ dan sum’ah dalam beramal. Dengan begitu amal manusia, meski banyak, sia-sia di mata Allah SWT. Sebabnya, pada saat demikian, salah satu modal utama agar amal diterima oleh Allah SWT, yakni ikhlas, tidak terwujud. Saat demikian, tentu rugilah manusia yang beramal. Abu Hatim ar-Razi  rahimahulLâh berkata, “Perniagaan yang paling menguntungkan adalah dzikrulLâh. Adapun perniagaan yang paling merugikan adalah mencari pujian manusia.” (Abu Umar Yusuf an-Namri, Bahjah al-Majâlis, hlm. 86)

Lebih dari itu, amal yang tidak ikhlas adalah tanda kemunafikan, bahkan kemunafikan di atas kemunafikan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLâh berkata, “Siapa saja yang menampakkan kepada orang lain kekhusyukan melebihi apa yang ada dalam hatinya maka itu merupakan kemunafikan di atas kemunafikan.” (Rawâ’ih at-Tafsîr, 2/11).

Di sinilah pentingnya setiap Muslim untuk selalu waspada terhadap godaan setan. Apalagi para ulama telah menyatakan bahwa riya’ (ingin dilihat orang) dan sum’ah (ingin di dengar orang) dalam beramal terkategori syirik meski syirik kecil. Riya’ dan sum’ah adalah di antara perangkap setan untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah SWT. Ini sesuai dengan apa yang diisyaratkan dalam al-Quran (yang artinya): Iblis berkata, “Demi keagungan-Mu, aku pasti akan menyesatkan manusia seluruhnya, kecuali di antara hamba-hamba-Mu yang iklash.” (TQS Shad [38]: 82).



Leave a Reply

16 − six =