Belajar Tobat dari Fudhail bin Iyadh

Fudhail bin ‘Iyadh adalah seorang ualama besar. Ia lahir di Samarqand tahun 107 H. Fadhl bin Musa berkata, Fudhail bin ‘Iyadh dulunya adalah seorang perampok yang cukup ditakuti. Ia biasa merampok orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Suatu saat ia pernah terpikat dengan seorang wanita. Saat ia memanjat tembok guna melaksanakan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca ayat (yang artinya): Belumlah datang waktunya bagi kaum beriman menundukkan hati mereka guna mengingat Allah (QS al-Hadid [57]: 16). Tatkala mendengar itu, kontan tubuhnya bergetar. Ia lalu bergumam, “Rabb-ku, tentu telah tiba saatku (untuk bertobat).” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ, 7/394).

Lalu malam itu juga ia segera bergegas kembali, Namun, saat ia tengah berlindung dan bersembunyi di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba lewat sekelompok orang. Seseorang dari mereka berkata, “Kita jalan terus.” Yang lain menimpali, ”Ya, kita jalan terus sampai pagi karena biasanya Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Mendengar itu Fudhail bergumam, “Aku melakukan berbagai kejahatan di malam hari hingga sebagian dari kaum Muslim merasa takut kepadaku. Ya Allah, sungguh aku bertobat kepada-Mu.” (Adz-Dzahabi, 7/394).

Sejak itu Fudhail bin Iyadh benar-benar bertobat. Ia berubah menjadi pribadi yang shalih, ahli ibadah, wara’ dan zuhud. Ia lalu menghabiskan banyak waktunya di Kufah sambil berguru kepada sejumlah ulama tekemuka. Ia kemudian hijrah dan menetap di Makkah sambil terus berguru ke sejumlah ulama besar disana. Pada akhirnya Fudhail bin Iyadh menjelma menjadi seorang ulama terkemuka, ahli fikih dan ahli hadis.



Leave a Reply

nineteen + seven =