Utang Pun Terbawa Mati

Utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan oleh syariah Islam dengan sejumlah syarat antara lain: tidak boleh ada unsur tipu-menipu, tidak boleh ada unsur riba, tidak boleh ada kebohongan dan kedustaan, dll.

Wajib diingat oleh setiap Muslim bahwa utang wajib dibayar. Kalau tidak, utang itu akan terbawa sampai mati dan pengutang akan dituntut sampai Hari Kiamat. Nabi saw. pernah enggan menshalatkan jenazah seorang Muslim yang masih memiliki tanggungan utang dua dinar sampai hutang itu dilunasi. Karena itu jika seseorang wafat, yang pertama kali harus dilakukan ahli warisnya adalah membayarkan semua utang-utangnya meskipun harus menghabiskan seluruh hartanya sehingga ia tidak meninggalkan warisan sedikitpun. Haram hukumnya mengadakan dan menyelenggarakan apapun dengan memakai harta mayit sebelum semua utangnya dilunasi terlebih dulu (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 11).

Terkait utang, Nabi saw. bersabda, “Jiwa seorang Mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai utang itu dilunasi.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi  dan Ibnu Majah).

Menurut Imam ash-Shan’ani dalam Subûl as-Salâm (II/250), “Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang akan tetap disibukkan dengan utangnya walaupun ia telah meninggal dunia. Hadis ini menekankan agar kita melunasi utang sebelum meninggal dunia. Hadis ini juga menunjukkan bahwa utang adalah tanggung jawab berat.”

Hal senada ditegaskan oleh Imam al-Munawi (Lihat: Al-Munawi, Faydh al-Qadîr, hlm. 375).

Semoga kita yang memiliki utang besar atau kecil diberi keinginan kuat dan kemampuan besar untuk segera melunasinya. Amin.

 



Leave a Reply

4 × one =