Bahagia dengan Islam

Sering orang menilai orang lain apalagi yang baru dia kenal dari tampilan fisiknya. Saat melihat orang gemuk atau gendut, kita mungkin akan menilai bahwa ia terlalu banyak makan. Pastinya banyak makan berefek pada kemalasan, termasuk dalam ibadah.  Namun, hal demikian tidak berlaku bagi Imam Waqi bin al-Jarrah. Ia adalah seorang ulama zuhud dari Irak. Ia adalah seorang ulama mujtahid. Ia biasa berfatwa dengan pendapat Imam Abu Hanifah ini. Ulama ahli ibadah ini rajin berpuasa dan menunaikan shalat malam. Suatu saat ia mengunjungi Makkah. Kala itu tubuhnya tampak tambun. Karena itulah Fudhail bin Iyadh, seoang ulama zuhud juga, bertanya, ”Bagaimana Anda bisa gemuk? Bukankah Anda adalah ‘rahib’ Irak?” Imam Waqi’ menjawab, ”Saya gemuk karena saya bahagia dengan Islam.” Memperoleh jawaban demikian, Fudhail bin Iyadh pun diam (Lihat: Tadzkirah al-Huffâzh, 1/306-309).

Jadi, bukan makanan yang membuat Imam Waqi’ menjadi gemuk seperti yang dialami manusia pada umumnya, namun karena amat besarnya kebahagiaan beliau dengan nikmat Islam.

Ada pula Imam ats-Tsauri. Ia sering banyak makan. Suatu saat ia menyantap menu makan malam hingga kenyang. Usai makan, ia berkata, “Sesungguhnya seekor keledai, jika pakannya ditambah, maka kerjanya pun lebih lama.”

Setelah itu Imam ats-Tsauri pun melaksanakan shalat malam lebih lama dari biasanya hingga datang waktu subuh (Manâqib Imâm ats-Tsawri, hlm. 48).

Begitulah ulama salafush-shalih. Yang satu gemuk karena bahagia dengan Islam. Satunya lagi banyak beribadah karena banyak makan. Bagaimana dengan kita?



Leave a Reply

thirteen − 9 =