Keutamaan Pembelajar al-Quran

Kata Baginda Rasulullah saw, ada dua golongan manusia terbaik yakni: (1) orang yang mempelajari al-Quran; (2) orang yang mengajarkan al-Quran (HR al-Bukhari).

Karena itu, terkait dengan al-Quran, seorang Muslim hendaknya tidak boleh lepas dari salah satu di antara tiga status: pembelajar al-Quran, pengajar al-Quran atau kedua-duanya sekaligus.

Terkait pembelajar al-Quran,  Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah di antara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau ‘Aqiq dan kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk, sedangkan dia tidak melakukan dosa dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Mengapa tidak pergi saja kalian ke masjid; mempelajari atau membaca dua ayat al-Quran. Itu adalah lebih baik bagi kalian daripada dua ekor unta (yang gemuk).” (HR Muslim).

Karena itu tentu tak selayaknya orang yang belum lancar membaca al-Quran  merasa malu untuk membaca al-Quran hanya karena masih dalam taraf belajar. Pasalnya, Rasulullah saw. sendiri pernah bersabda, “Orang yang membaca al-Quran dengan terbata-bata karena merasa kesulitan (tetap) akan mendapat dua pahala.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu pula, seorang Mukmin yang terbiasa membaca al-Quran—meski dengan terbata-bata—tetap lebih baik daripada Mukmin yang jarang membaca al-Quran. Begitulah yang disabdakan Rasulullah saw., “Perumpamaan orang Mukmin yang biasa membaca al-Quran itu seperti buah Utrujjah (sejenis limau). Baunya harum dan rasanya sedap. Perumpamaan orang Mukmin yang tidak biasa membaca al-Quran itu seperti buah kurma, tidak ada baunya tetapi rasanya manis.” (HR al-Bukhari dan Muslim).



Leave a Reply

eight + nineteen =