Menjemput Hidayah Allah SWT

Sama dengan rezeki, hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT. Hanya Dialah Pemilik hidayah. Dialah Yang berhak memberikan hidayah kepada siapa saja Yang Dia kehendaki (QS al-Qashash [28]: 56). Namun, sebagaimana manusia dituntut untuk mencari rezeki, ia pun dituntut untuk menjemput hidayah.

Paling tidak 17 kali sehari—di dalam shalat-shalat fardhu—kita memohon agar Allah SWT memberi kita hidayah-Nya, yakni dengan menunjukkan kepada kita jalan lurus. Itulah Islam. Selain Islam adalah jalan yang sesat (QS al-An’am [6]: 153). Karena itu saat kita tidak tidak mengikuti syariah-Nya, kita sungguh sedang berjalan di jalan yang bengkok. Saat demikian, permohonan kita kepada Allah agar Dia menunjuki jalan yang lurus adalah permohonan dusta dan penuh kepura-puraan.

Jalan lurus adalah jalan penuh kenikmatan. Nikmat di dunia ini banyak ragamnya. Namun, nikmat hakiki hanya ada di surga nan abadi. Itulah nikmat yang hanya Allah SWT berikan kepada para nabi, para shiddiqîn, para syuhada dan orang-orang shalih. Itulah yang sejatinya sering kita mohonkan kepada Allah SWT dalam shalat-shalat kita.

Sebaliknya, jalan bengkok adalah jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Memang, dalam hal ini, seorang Muslim kecil kemungkinan sekaligus memeluk agama Yahudi Nasrani. Yang sangat mungkin alias tak mustahil, seorang Muslim berperilaku dan menempuh jalan kaum Yahudi dan Nasrani: Muslim tapi mengumbar aurat; Muslim tapi bergaul bebas; Muslim tapi pelaku riba; Muslim tapi selingkuh; Muslim tapi korupsi; Muslim tapi terlibat suap-menyuap; dst. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari perilaku dan jalan hidup kaum kafir seperti itu (QS al-Fatihah [1]: 7).



Leave a Reply

2 × 1 =