Larangan Bergaul dengan Pelaku Maksiat

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seseorang itu bergantung pada agama temannya. Karena itu hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Karena itu pula Ibnu ‘Abbas pernah berkata, “Janganlah Anda duduk-duduk (bergaul) bersama para pengikut hawa nafsu karena sesungguhnya duduk-duduk bersama mereka akan membuat hati menjadi sakit.” (Ibnu Baththah, Al-Ibânah al-Kubrâ, 2/438).

Mushab bin Saad pun pernah berkata, “Janganlah engkau duduk bersama orang yang terfinah (sesat) karena tidak akan luput darimu salah satu dari dua kemungkinan: engkau terfitnah (tersesat) sehingga engkau mengikuti dirinya atau dia akan mengganggu kamu sebelum engkau meninggalkan dirinya.” (Ibnu Baththtah, Al-Ibânah al-Kubrâ, 2/442).

Karena itu hendaknya kita tidak bergaul dengan para pelaku dosa dan kemaksiatan. Hal ini antara lain didasarkan pada hadis dari Jabir ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir, janganlah duduk di tempat hidangan yang di dalamnya disediakan khamar.” (HR at-Tirmidzi).

Selain terlarang, teman duduk sedikit banyak memberikan pengaruh. Abu Musa al-Asy’ari menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Penjual misik boleh jadi memberi kamu misik; engkau membeli misik dari dia atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Alhasil, mari kita menjauhkan diri dari para pelaku dosa dan kemaksiatan. Pergaulan kita dengan mereka sebatas untuk kepentingan mendakwahi dan menasihati mereka.



Leave a Reply

one × 5 =